Nucifera
Pergi ke tempat wisata tampaknya sudah menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia sekarang. Banyak jasa perjalanan dengan penawaran yang beragam, dari biaya murah hingga mahal dibarengi dengan fasilitas yang beraneka ragam. Kawasan Jawa Timur misalnya, dengan banyaknya destinasi yang beragam seperti pegunungan dan pantai menjadi daya tarik sendiri untuk wisatawan. Jika tidak ingin menggunakan jasa perjalanan, kalian juga bisa jalan-jalan sendiri dengan bantuan relasi, teman, keluarga yang berada di destinasi yang akan kalian kunjungi. Seperti perjalanan kali ini ke ujung timur Pulau Jawa dan tetangganya Pulau Bali. Tujuan ke ujung timur adalah bersilaturahim dengan teman sekaligus ada yang harus diselesaikan.

Transportasi KA. Sri Tanjung



Perjalanan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari bahkan tahunan, akhirnya bisa terwujud dengan modal yakin. Seperti biasa rangkaian gerbong besi dengan roda berpadu dengan sambungan rel menuju sebuah kabupaten ujung timur pulau Jawa. duduk disebuah kursi dengan kemiringan 90 derajat yang membuat refleksi diseluruh badan melintasi dari ujung barat jawa timur mengawali perjalanan yang penuh dengan pelajaran. Tujuh belas Oktober 2019 adalah awal dimulai perjalanan pertama kalinya melintasi dengan Ka. Sri Tanjung yang dibuatnya dari madiun siap memulai cerita. Pukul 10.00 WIB berangkat menuju ujung timur Jawa hingga tiba di Stasiun Karangasem pukul 21.00 WIB. Hampir sepuluh jam duduk dikereta tentunya sangat membosankan bagi yang belum terbiasa. Ada tips untuk yang berpergian menggunakan jasa ini agar tidak membosankan (bila berpergian sendiri atau berkelompok). Biasanya para traveller bawa bekal dari rumah, bisa berupa makanan, minuman, buku bacaan, dan lainnya yang menentramkan jiwa, ini tips yang pertama.

Jangan lupa untuk ng-Read-ta


Tips yang kedua, jika kalian bingung mau berbuat apa, ajak bincang - bincang orang terdekat. Biasanya yang dibincangkan mengenai kisah hidup, nasihat-nasihat hingga tidak terasa perjalanan telah sampai tujuan. Perjalanan ini dinamakan berguru dalam perjalanan karena setiap orang memiliki ciri sendiri dalam menikmati sebuah perjalanan. Ada yang suka main sendiri dengan kegemarannya, ada yang suka berinteraksi hingga sampai tujuan akhir. Kebetulan yang duduk didepan saya adalah seorang bapak yang kebetulan orang asli Madiun, kemudian saya memberanikan diri untuk memulai berinteraksi. Memulai dengan biasa khas orang Madiun, basa basi adalah kunci memulai pembicaraan yang apakah lebih menarik atau bosan. Singkat perbincangan, akhirnya beliau memberi sebuah petuah untuk diri ini, “jogo limo waktune lan wong tuone” (jaga lima waktunya dan orangtunya) itulah singkat menutup perjalanan kami dari Madiun hingga akhirnya bapak tersebut sama-sama turun di Stasiun Karangasem Banyuwangi. Pesan buat para pejalan :
“Jangan malu-malu untuk memulai sesuatu, baik itu kecil. Dari basa basa basi menjadi sebuah harapan yang tidak tahu terwujud kapan dan dimana. Apalagi jika tersesat, maka yang diperlukan adalah seorang yang mampu memberi arahan (menepuk pundak) supaya tidak berbelok dan agar lurus”

Lanjut lagi setelah bermalam disalah satu sohib kuliah yang berdomisili di Banyuwangi dan menikmati nasi tempongnya (kali ini nasi tempong dekat Stasiun Karangasem) melanjutkan kembali menuju Pulau Bali, lagi- lagi dengan bantuan sohib kuliah. Pelabuhan Ketapang adalah tempat penyeberangan bila menuju pulau Bali. Lalu lalang kapal dengan mesin yang handal mengaruhi Selat Bali yang terkenal dengan ikan lemuru (Sardinella sp). Hampir saja menebar jaring, niat itu diurungkan karena bukan area untuk menangkap ikan. Naik kapal dari Pelabuhan Ketapang (Banyuwangi) – Pelabuhan Gilimanuk (Bali) cukup terjangkau dengan harga Rp. 6000 sekali berlayar untuk per orang. Jika menggunakan motor kurang lebih Rp. 22.000.


berhenti di Stasiun Karangasem

kapal penyebrangan

Silahkan dilanjut ke

Kembali ke Ujung Timur Pulau Jawa Eps 2

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama