Sudahkan kira bersyukur akan hidup hari ini?
Pernah merenung sejenak atau bahkan berulang kali? Apa yang kita renungkan? Hidup ?
Hidup kita akan terasa jauh lebih bermakna jika kita mampu memberikan manfaat pada orang lain. Apa yang dicari dalam hidup ini? Apakah seolah hidup untuk diri sendiri ? Apakah menjalani hidup untuk sekedar mengatur diri sendiri?
Tentu saja memang kita harus mengatur diri kita sendiri dengan baik. Namun, itu tidak cukup. Kita juga harus mengatur diri kita agar bisa bermanfaat pada orang lain. Ya bermanfaat dalam kebaikan.
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاس
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.”
(HR.Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadist ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no. 3289)
Menebar rasa kebermanfaatan tidak serumit yang kita pikirkan. Coba kita keluar lingkungan sekitar, jangan sampai kita hanya menjadi beban masyarakat. Jangan sampai kita menjadi orang yang tidak punya nilai dalam lingkungan kita. Berikan pengaruh positif pada orang-orang di sekitar kita. Tebarkanlah manfaat sekecil apapun itu. Berikan kontribusi terbaik yang mampu kita berikan kita pada lingkungan sekitar kita.
Pernah berpikir kita tidak punya apa-apa? manfaat apa yang bisa kita berikan?
Jangan sampai kita berpikiran kita tidak bisa bermanfaat untuk orang lain. Ketika kita berpikir bahwa kita tidak punya apa-apa maka kita akan benar-benar tak mampu memberikan manfaat. Ubahlah pemikiran tersebut. Setiap orang pasti punya nilai lebih, apapun bentuknya. Paling tidak berikan inspirasi positif pada orang-orang di sekitar kita yang kita jumpai agar menjadi pribadi yang lebih baik dari kita, cara tersebut bisa menjadi salah satu cara menebar kebermanfaatan diri.
Berbuat yang bermanfaat paling utama. Teringat sebuah nasihat.
1. Kamu dibutuhkan Siapa ?
2. Bisa mengisi Dimana ?
Dua hal yang mendasar dalam kebermanfaatan.
1. Siapa ? Siapa yang membutuhkan kita?
Kepekaan dalam hidup bermasyarakat sangat penting salah satunya ketika kita selesai melaksanakan sholat terawih kemudian dilanjut dengan tadarus, kegiatan menyimak sambil membenarkan bacaan memang sudah menjadi kewajiban kita ketika ada yang memulai tadarus. Saat kita di minta gabung untuk menyimak dan membaca ayatayat suci bersama orang - orang yang dari umur sudah tua diatas kita. Pertama saat kita terlalu cepat dalam tilawah sehingga mereka (penyimak) ketinggalan dan terpaksa kita berhenti untuk memberi tahu sampai ayat mana yang kita baca. Namun, sangat salut dengan ghirah para orang tua ini dalam membaca ayat-ayat Al-Qur’an huruf demi huruf walaupun masih terbata-bata dalam mengucapkannya, itu mengajarkan kita tentang pentingnya arti kesabaran. Mungkin ketika orang tua kita sudah tua nanti dan sulit untuk membaca Al-Qur’an, giliran kita harus membantu orang tua untuk membacanya. Seperti orang tua mengajari kita ketika masih kecil dan begitu pula ketika kita akan menjadi orang tua akan ada anak muda yang dengan ikhlas membantu menyimak dan membernarkan bacaan. Mungkin masih banyak lagi hal yang bermanfaat yang bisa kita lakukan. Lakukan walau itu kecil dan mungkin tidak ada efeknya terhadap diri kita, tapi manfaatnya sangat bernilai pada orang lain.
2. Dimana? Kita bisa mengisi dimana?
Sebenarnya banyak disekeliling kita yang bisa dibantu. Intinya nyata berkontribusi. Dimana saja asal itu tempat bermanfaat dalam kebaikan. Kita ambil contoh, ketika kita berada di tempat kuliah, salah satu adik tingkat kita mengadakan program pelatihan/ motivasi, disitu kita bisa mengambil peran jika adik-adik tingkat menyediakan waktu untuk kita berbagi ilmu kepada kegiatan tersebut. Berbagi tidak akan menjadikan apa yang kita bagi menjadi habis tapi justru akan bertambah. Mungkin masih banyak lagi tempat dimana kia berbagi. Tapi jika ruang berbagi manfaat tidak ada, gunakan tulisan untuk bersuara. Melalui media masa kini sudah sangat cepat menyebarkan berbagai informasi yang bermanfaat.
إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri... ” (QS. Al- Isra :7)
Dan satu hal lagi yang cukup penting adalah jangan berharap pamrih sedikitpun atas kebermanfaatan yang kita berikan pada orang lain. Berikan saja dengan tulus ikhlas. Karena ikhlas adalah salah satu kunci. Yakinlah suatu saat nanti semua kebermanfaatan itu akan dibalas oleh Allah kepada kita. Kalau tidak dibalas di dunia, paling tidak di akhirat.
Ketika sunnah itu ditegakkan terasa begitu berat, maka ringankanlah dengan berta’awun bersama mereka. Dengan demikian, sunnah itu akan masuk sendirinya ke dalam keseharian mereka.
Semoga kita senantiasa diberi kemudahan untuk istiqomah dalam berbuat kebaikan dan menjadi pribadi yang bermanfaat oleh-Nya. Allahuma Amiin.
“ Meski cuma setitik, cahaya itu tetaplah cahaya ”
“Tidak usah terlalu terang, cukup ada dan tak perah padam”
01 Januari 2019
Asroful Mujib
Posting Komentar